Mengenai Pelafalan China (Caina) oleh Para Presenter Metro TV

Salah satu perhatian yang muncul dari para anggota BC dalam Thread 20115 adalah mengenai pengucapan istilah China (caina) oleh para presenter Metro TV. Pembahasan ini cukup hangat buat para member. Sampai-sampai ada member baru menanyakan hal ini kembali. Agar tidak repot mengubek-ubek halaman thread yang sudah banyak, berikut ini petikan postingan anggota BC mengenai “China” ini.

page 73

[Andrade_Silva]

Bukan masalah pronounciationnya, sih.
Saya yakin koq kalau orang2 Metro tu pada jago2 pronounciationnya. Cuman yang saya tanyaken, apakah kata “Cina” itu dilarang disebut oleh Metro, jadi kudu diganti ama “China” yang notabene pake ejaan non-Indonesia?

Atawa Metro pengin pake ejaan internasional aja biar keren. Hanya saja, kalau begitu, mustinya sekalian aja dong, “Jepang” diganti pake “Japan”, “Perancis” ama “France”, trus “Amerika” ama “United States”. Kenapa cuman “Cina” doang yang diganti ama “China”?
Walaupun gitu ada kasus juga sih, Metro menyebut “Aljazair” jadi “Algeria”, dan “Suriah” jadi “Syiria”. Tapi toh “Arab Saudi” nggak serta merta jadi “Saudi Arabia”, kan? Itupun kasusnya cuman insidental, artinya Metro nggak selalu nyebut “Aljazair” jadi “Algeria”. Tapi kalau “Cina” pasti disebut jadi “China”.
Ini bisa dibuktikan….

Tapi pernah sih, pas liat Sport Corner jadi kaget, soalnya naratornya nyebut “Meksiko” jadi “Mexico” (baca: Me’hiko). Keren banget tu narator, sayangnya “Meksiko” kedua balik lagi deh, jadi “Meksiko”.

Page 257

[Mje]

Suka sebel kalo ada yang ngucapin Indonesia jadi endonesia atau cina jadi caina (penyakitnya orang metro tv neh, terakhir ngeliat kamus bahasa indonesia cara pengucapannya masih sama dengan penulisannya ) terus yang nyebut mexico jadi mehiko (tau khan siapa?) jadi rusak neh bahasa Indonesia.
Udah gitu, kalo pake bahasa Inggris aksennya suka dibuat2 jadi kayak orang ngedumel

[Fixmanius]

Ekekeke.. Yah, mungkin MetroTV bermaksud baik..

Mehiko. Ohhoho, pasti maksudnya si DK!
Tapi itu kan iseng2 aja (di SC doang kan?), kalo lagi formal baca berita kaga kan??

[Charlie368]

mengenai ucapan cina menjadi china/caina….
sebetulnya metro tv bertujuan baik kepada orang tionghoa….
soalnya gw pernah tanya ke bokap….
memang kata cina itu punya artinya penghinaan kepada orang tionghoa waktu zaman penjajahan jepang
mengenai artinya sebenarnya…bokap kurang tau …,yg pasti pada saat itu orang jepang menyebut kata cina bertujuan menghina orang tionghoa
so…. buat orang tionghoa yg generasi tua tidak suka dengan kata cina…mereka lebih suka di sebut tionghoa ato china dengan ucapan caina

[Janissary]

lebih enak balik aja ke ejaan lama…
Republik Rakyat Tiongkok….
kan mantap…*pengucapan ala si entong*

[Fixmanius]

Ok juga tuh “RRT”.. Tapi agak lucu..

[Charlie368]

fixy…. …tua ada yg lebih tua lageee
gw baru googling ada di wikipedia ada tuh…. masalah orang tionghoa tidak suka di sebut cina
gw baru baca sepintas aja

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembica…ik_Rakyat_Cina

[mje]

Ngga kesitu deh pembicaraannya broer charlie, soalnya cina (yang sering disebut sama presenter metro tv) maksudnya negara, bukan mengenai etnis tionghoa yang ada di Indonesia. Ini khan masalah bahasa.
Kalo benar apa yang dimaksud broer charlie mengenai tujuannya metro tv….IMHO, metro tv terlalu berlebihan. Gitu aja kok repot!

[charlie368]

k…. gw ngerti maksudnya mje

tapi dari gw baca di wikipedia… yg gw tangkap seperti ini

http://id.wikipedia.org/wiki/Pembica…ik_Rakyat_Cina

dari pihak negara china juga tidak suka dengan kata “cina”
intinya dari kata “cina” itu ada artinya penghinaan…mungkin istilah ini dari orang jepang
kalangan media sudah sepakat tidak memakai kata “cina”
so…mereka menghindari kata “cina.”..kalo china/caina ga masalah
dari presiden mega,gur dur dan SBY sudah sepakat utk tidak menyebut ” cina”
yg gw tangkap seperti itu…
pls koreksi gw kalo salah

buat moderator….masalah ini memang OT tapi pls di biarkan aja
soalnya banyak yg penasaran masalah kata “cina” ini termasuk gw
diskusi ini buat wawasan kita2 yg belum tau
….

Page 258

[Andrade_Silva]

Terus…masalah “Mexico” itu…sebenarnya itu bener…apabila dibaca pake aksen asli Bahasa Spanyol, “J” ama “X” ama “G” (tengah kata) kan dibaca “H”…itu sama aja kaya kalau kita bilang Julio Iglesias kan kita bilangnya “Hulio Ihlesias“. Ini pengucapan lisan buat memudahkan saja…soalnya kalau misalnya ada nama “Xabier Etxeitxa” (Ejaan Basque) gimana coba mbacanya?? “Sabier Etseitsa“? Nggak…yang bener “Havier Ekheitkha“… atau kalau pake ejaan Castillian jadi “Javier Etxeitka

Bahkan Dian Krishna itu memiliki aksen bahasa asing non-inggris mandarin yang paling bagus. “Marseille” disebut “Makhrsei” sementara yang lain nyebutnya “marseile“…atau “Bordeaux” disebut “Bokhrdo” bukan “Borduks“…atau “Lyon” disebut “Liong” bukan “Lion” atau “Laien” …

Taruh kata paling jengkel juga pas Piala Dunia 1998 soalnya dari semua presenter olahraga di semua stasiun TV…nggak ada yang bisa menyebut nama pelatih Perancis “Aime Jacquet” dengan benar…pasti pada bilangnya “Eimi Jake” atau “Aime Jake” atau “Eimi Zaket“… padahal yang bener itu “Eim Zakt“. Padahal kalau dibandingin dengan nama pelatih Paraguay: “Paolo Cesar Carpeggiani” kan lebih susah “Carpeggiani“.
Oalah…saat itu belum ada si DK sih…coba udah ada…

Oke…kuis…gimana cara bilang “Jose Mourinho“? “Hose Murinyo” atau “Jose Maurinyo“?… trus gimana cara bilang “Rafael Benitez“? “Rafael” atau “Rafaiel“?…

Taruhan juga pasti di sini jarang ada yang bisa ngucapin nama2 ini dengan benar:

1. Santiago Bernabeau
2. Llorenc Serra-Ferrer
3. Vicente del Bosque
4. Le Championat
5. Coupe du Monde
6. Deutsche Weltmeister 2008
7. Thierry Henry

Kalau nggak salah, menurut dari yang pernah saya denger dari temen yang emang mempelajari Numerologi Tiongkok…”Cina” itu apabila ditulis pakai huruf Mandarin “Chin“…maka akan beranalogi dengan kata “Jajahan“…kata ini yang dipakai oleh Jepang buat “memelesetkan” bangsa Cina yang waktu sebelum Perang Dunia II (pasca Inkursi Manchuria) adalah di bawah kekuasaan Jepang. Dalam istilah itu pula maka disebutkan bahwa “Cina” berasosiasi dengan “Budak“. Istilah ini mungkin muncul sebagai akibat permusuhan abadi antara Tiongkok dengan Jepang selama beratus-ratus tahun yang puncaknya terjadi pada “Perang Tujuh Tahun (Perang Imjin)” antara Dinasti Ming (Tiongkok) yang dibantu oleh Dinasti Joseon (Korea) dengan Keshogunan Hideyoshi Toyotomi (Jepang). Dalam Perang itu Jepang kalah, tapi lalu dibalas oleh Invasi Jepang ke wilayah Tiongkok pasca kemenangan Jepang dalam “Perang Rusia-Jepang” di Tsushima.

Lalu analogi kedua adalah bahwa kata “Cina” itu diambil dari nama dinasti yaitu dinasti “Chin” yang melakukan reunifikasi Tiongkok. Karena Kaisar Chin, yaitu Qin She Huang Di bertindak amat kejam, maka orang Tiongkok sendiri kurang sreg kalau dibilang orang “Chin” tapi malah lebih memilih menyebut diri sebagai “Orang Han” berkaitan dengan Dinasti Han yang menguasai “Empat Penjuru Langit” yang disimbolkan oleh Empat Kota yaitu: “Tong King” (Kota Timur) atau “Tokyo“, “Pei King” (Kota Utara) atau “Peking” atau “Beijing“, lalu “Shi King” (Kota Barat) yang mengacu pada wilayah Xinjiang di barat dan “Nan King” (Kota Selatan) atau “Nanjing“.

Analogi ketiga adalah bahwa kata “China” itu digunakan oleh Orang Barat untuk menyebut “Keramik“. Ini dimungkinkan bahwa pada pembukaan Jalan Sutera, komoditi Tiongkok yang paling dikenal adalah Keramik. Karena kesulitan bagi orang Barat untuk menyebut “Tiongkok“, maka dipakai “Chin” yang mana saat itu adalah nama salah satu negeri di Tiongkok. Dalam dialek Germanic, “Chin” menjadi “China” atau dibaca “Caina“. Karena suku bangsa Germanic menguasai Eropa (Termasuk Inggris) pasca kejatuhan Romawi, maka nama “Caina” menjadi nama umum untuk menyebut “Tiongkok“. setelah Inggris “Menguasai Dunia“, maka istilah “China” menjadi istilah umum di seluruh Dunia.

Mandarin” sendiri sebenarnya berasal dari kata “Mantrin” atau dalam Bahasa Melayu berarti “Magistrate” (ini berasosiasi dengan kata “Mantri” yang lalu diartikan sebagai “Menteri“). Ini mungkin untuk menyebut Perwalian dari Dinasti Ming di Tiongkok atas wilayah-wilayah koloni di sekitar “Nan Hai” atau Laut China Selatan (antara lain Cham Papura, Tumasik, Malaya, Majapahit, Cha-li-fo-che, dan Annam). Istilah “Mandarin” lalu dipergunakan oleh bangsa Portugis untuk menyebut “Bahasa Han“, “Orang Han“, “Negara Han“, dan “Kebudayaan Han“.

Tiongkok berasal dari kata “Chung Kuo” atau “Zhong Guo” atau diartikan sebagai “Negara Pusat” atau “Dataran Pusat“. Sementara itu Tionghoa berasal dari kata “Chung Hoa” atau “Zhong Hua” yang berarti “Segala sesuatu mengenai Dataran (Negara) Pusat“. Tiongkok dipakai untuk menyebut seluruh wilayah nasional Cina…sementara Tionghoa menunjukkan hal kebangsaan. Menyebut “Tiongkok dan Tionghoa” sama saja seperti menyebut “Great Britain dan British“. Oleh karena itu, kita tidak menyebut “Negara Tionghoa” melainkan “Negara Tiongkok“…juga tidak menyebut “Bahasa Tiongkok” tapi “Bahasa Tionghoa“. “Tionghoa” sendiri juga disebut sebagai “Han Zi” atau “Segala sesuatu mengenai (Kebudayaan) Han“.

Gimana Bro Charlie?? Ada kesalahan apa nggak??
Kalau ada mohon dikoreksi…

Sbny OOT…tp gpp, buat pencerahan…

[Charlie368]

bagus tuh… pls di masukin ke wikipedia yaaa
thanks

[Andrade_Silva]

olong masukin dong…gw gak tahu caranya nih…

Oh ya…tambahan aja: Tahu nggak darimana asal nama “Jepang” ama “Korea”? Fun Fact aja yah…OOT gak masalah, demi pencerahan.

Jepang adalah Gugusan Kepulauan di sebelah Timur Tiongkok dipisahkan oleh Laut Jepang dan Selat Tsushima serta Dong Hai (Laut Cina Timur). Suku bangsa asli Jepang adalah bangsa Ainu, tapi pada zaman Dinasti Han, Kaisar Han berhasil mencapai Kepulauan Jepang (waktu itu belum ada namanya) dan menamakannya sebagai “Ri Ben” atau apabila diterjemahkan berarti “Matahari Terbit“. Ini mengacu bahwa kepulauan Jepang merupakan batas timur terluar kekuasaan Imperium Han sebelum Samudera Pasifik. Sehingga Jepang alias “Riben” bisa diartikan sebagai “Wilayah Tempat Matahari Terbit” (The Islands of The Rising Sun). Dengan asimilasi tulisan Han ke Jepang, maka pada dialek Jepang, “Ri Ben” dibaca sebagai “Ni Hon” (artinya sama), yang lalu menjadi “Nippon” (kata “Dai Nippon” sendiri secara harfiah berarti “Kekaisaran Matahari Terbit”). Setelah Jepang berbentuk Negara sendiri maka namanya menjadi “Ri Ben Guo” atau “Ni Hon Go” atau “Negara Matahari Terbit“. Di Tiongkok sendiri, “Ribenguo” dalam dialek lain (setelah Dinasti Han runtuh) dibaca pula dengan “Ci Ban Gu” atau “Ciban Gu“. Istilah ini lalu bergeser menjadi “Jipan Gu” atau lebih dikenal dengan “Jipan“. Ketika Bangsa Portugis masuk ke Tiongkok, kata “Jipan-gu” lalu diucapkan sebagai “Jipangu” yang lalu dikenal sebagai “Ja-pun” atau “Je-pon” atau “Japan“. Dari Portugis pula maka di Indonesia “Kepulauan Matahari Terbit” dikenal sebagai “Jepang“.

Korea adalah semenanjung di sebelah timur Tiongkok yang memisahkan antara Tiongkok dengan Selat Tsushima dan Jepang. Dalam dialek asli, semenanjung ini disebut sebagai Semenanjung Koguryo. Wilayah Koguryo lalu tumbuh menjadi negara sendiri yang (kecenderungan) mengabdi pada Tiongkok. Salah satu dari Kerajaan paling terkenal adalah Kerajaan Koryo, yang mana hal ini lalu diserap oleh Tiongkok sebagai “Gu-ryo” atau “Korea“.

Nama2 Kota Di Indonesia Dalam Metro Xin Wen’s Weather Report:

Semarang = San Pau Long
Samarinda = San Ma Lin Da
Padang = Pa Tong
Bandung = Wan Long
Jakarta = Ya Er Ta
Serang = Tse Lang
Palangkaraya = Pa Lang Ka La Ya

Beneran gak nih? Kalau ada yang salah mohon dikoreksi.
Momod…mohon jangan dihapus.

Itulah kira-kira hasil diskusi para anggota BC mengenai “China” ini. Semoga dapat berguna demi kemajuan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam dunia jurnalistik.

22 pemikiran pada “Mengenai Pelafalan China (Caina) oleh Para Presenter Metro TV

  1. hehehe..
    palembang = pai li bang….
    kotanya dari seorang nama anak buah Cheng Ho…
    makanya orang palembang mirip putihnya ama orang chinese…

  2. Terlepas mau terima atau enggak, tapi orang China emang mengatakannya sedekat mungkin dengan logat asli mereka…
    Bukan kesengajaan, hanya saja memang secara awam mereka tidak mampu mengucapkan “Padang” dan menggunakan pelafalan yang lebih dekat dengan bahasa Mandarin, yaitu “Pa Tong”.

    Ini kan mirip sama orang yang bilang “Batavia” sebagai “Betawi”…
    Atau orang Jawa yang menyebut “Holland” sebagai “Londo”. Atau malah orang Yahudi yang menyebut “Isa” sebagai “Iasu”.

    Bukankah dulu Sriwijaya juga disebut sebagai “Cha-li-fo-che”?

    Aku masih cari sih asal kata “Pa”… tapi yang pasti “Tong” sendiri berarti “Timur”. Ini dilihat dari dua kata yang terdapat dalam Padang jika dituliskan dalam huruf Mandarin, yaitu menjadi “Pa” dan “Tong”. Jika menggunakan ejaan Mandarin yang disempurnakan, maka disebut juga sebagai “Pa Dong”.

    So, sebelum ada yang bilang nggak terima, sebaiknya dicari dulu dasarnya… Soalnya apa yang bagi kita kedengaran jelek, bisa jadi di ejaan aslinya, berarti bagus.

    Sorry, tapi emang soal bahasa gini sebaiknya memang jangan dulu berkomentar sebelum kita mempelajari apa dasar aksen berdasarkan bahasa pengucap.

  3. Kenapa tidak semuanya diindonesiakan ? Atau sekalian kenapa tidak semuanya distandarkan penyebutannya menggunakan bahasa asli setempat ? Kenapa United States of America masih disebut Amerika Serikat ?

    Saya juga tidak setuju dengan pelafalan |chai-na| di Metro TV. Kalau alasannya adalah kesan yang timbul jika melafalkan |ci-na| maka tolong KBBI itu diubah dulu, baru kita susun lagi entry dan pelafalan yang baru.😆

    Gampangnya sih : Indonesiakan saja semua. Dan stasiun TV ikuti saja yang sudah ditetapkan. Masalah kesan itu urusan lain.

  4. Ada beberapa permasalahan sih Bro… Dan ini harus kita pikirkan dulu secara mendalam supaya mendapatkan pemahaman yang lebih baik…

    Jujur saya baru berani nulis seperti di atas setelah melakukan pendalaman dan bertanya sana-sini…

    Oke lah, mungkin secara KBBI, Cina itu adalah ejaan yang betul menurut Bahasa Indonesia… tapi kita pun juga harus mempelajari mengapa Media menolak menggunakan “Cina” dan malah mengucapkan “China”…

  5. Bukan begitu, mas. Masalah berbahasa memang selalu ada kaitannya dengan masalah sosial apalagi kultural. Mungkin ini bisa menjadi pertimbangan Pusat Bahasa dalam menyusun entry dan pelafalan serta adaptasi bahasa-bahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia.

    Tetapi sebelum itu menjadi kesepakatan, mengapa justru membuat sebuah “mode” tersendiri ? Sementara kita justru diminta bangga menggunakan bahasa Indonesia, tetapi media sebagai salah satu corong bahasa justru memperlakukan bahasa dengan “gaya” tersendiri. Saya sendiri beberapa kali mengkritik penggunaan bahasa di beberapa surat kabar karena penggunaan bahasa Indonesia yang tidak pada tempatnya.

    Saya yakin MetroTV pasti punya alasan memakai pelafalan itu. Mungkin alasannya adalah kesan dan sejarah yang kelam akibat penggunaan kata “cina” di masa lalu. Tetapi apakah lantas menjadi pembenaran kalau akhirnya menggunakan pelafalan asing ? Dari beberapa informasi yang saya dapat, kata “Tionghoa” mungkin lebih diterima daripada “Cina”. Tionghoa bisa menjadi alternatif dibandingkan |chai-na|🙂

  6. Saya menghargai pendapat Anda, dan saya setuju…

    Namun ada beberapa hal yang memang harus diperhatikan sehubungan dengan masalah ini menyangkut pada hal sosio-kultur. Antara lain adalah kita harus terlebih dahulu memahami apa asal muasal dari semuanya (Historis).

    Selain itu juga, meskipun “lebih baik” namun kata “Tiong Hoa”, menurut seorang ahli Bahasa, sebenarnya “tidak terlalu tepat” untuk menjadi alternatif “Cina”.

    Saya memang bukan ahli bahasa dan ilmu linguistik saya mungkin masih rendah, tapi saya dengan senang hati akan menjelaskan kepada saudara goldfriend sepanjang pengetahuan saya setelah saya mempelajari kasus ini baik dari segi linguistik, sosio-kultur, maupun historis.

    Tapi sebelumnya, Saudara Goldfriend, ada yang hendak saya tanyakan terlebih dahulu kepada Anda:

    1. Apakah Saudara adalah orang keturunan Tiong Hoa? dan atau,
    2. Apakah Saudara juga mempelajari atau menguasai Bahasa Mandarin baik secara lisan maupun tulisan? dan atau,
    3. Apakah Saudara pernah setidaknya mengetahui mengenai dasar-dasar penulisan alphabet Mandarin? dan atau,
    4. Apakah Saudara mempelajari juga Sejarah Kebudayaan Timur Jauh pada umumnya dan Cina pada khususnya?

    Mohon dijawab terlebih dahulu pertanyaan saya ini, supaya nantinya saya bisa memberikan penjelasan berdasarkan apa yang saya dapat ini, dengan lebih tepat sasaran…

    Terima kasih…

  7. Duh salah pencet, maaf nih buat mas goldfriend, komentarnya terhapus satu. Gara2 ada pengacau sih tadi.

    Sekali lagi maaf

  8. Duh… buat Saudara Goldfriend…

    Berhubung nggak sengaja kehapus, mohon diulang kembali jawabannya…

  9. Ping balik: Why they said Caina instead of Cina in bahasa? « Almaokay’s Weblog

  10. akan sy luruskan pelafalan ini memenag benar pelafalan cai na itu. Kl dibaca cina begitu aja artinya org china yg bodoh(menurut kamus bhs jepang) guru mandarinku pernah cerita ttg hal ini.

  11. Mungkin memang benar kalau mengacu ejaan/pengucapan mandarin, tapi….

    Bukankah bahasa sini tidak mengenal pengucapan seperti itu? C-I, ci. N-A, na. Ci*na?

    Maaf, semua IMHO.

  12. Kalo memang maunya pake pengucapan china, harusnya disesuaikan dgn bahasa indonesia, mungkin ditulisnya Chaina, Caina, Cayna, ato semacamnya. Jgn ditulis China tapi dibaca”chaina”, kan ga sesuai ejaan.

  13. Ping balik: Top 10 Newsperson untuk Bulan November 2008 « Blog Komunitas Fans News Person

  14. pho ko na mah cing chang khe ling ma nuk cing kleung chi ne tenn … blos kha kho long ba pha sha tan bu lhe nenggg…

  15. Halah ‘cina’ doang disebut sebagai penghinaan. gimana sih kalian sebagai WNI tidak menghargai bahasa indonesia. orang jelas jelas di kamus bahasa indonesia china itu ditulis cina. jadi, apa masalahnya? apakah ada yang salah? kalian lebih memilih menghargai orang tionghoa daripada saudara kita yang menciptakan bahasa indonesia pada sumpah pemuda??? PANTESAN INDONESIA GA MAJU MAJU! GA AKAN PERNAH MAJU KALO GITU TERUS CARANYA!!!

  16. METRO TV ADALAH TV BERITA YANG:
    TIDAK PROFESIONAL!
    TIDAK MENCINTAI INDONESIA!
    TIDAK MENCINTAI BAHASA INDONESIA!
    NGOMONGNYA AJA UDAH KAYAK CINTA LAURA

  17. Orang Caianjur, mau ke Jakarta lewat Caipanas,sampai diterminal Caililitan ganti kendaraan menuju ke Caiputat, diperjalanan macet banjir karena air kali Cailiung meluap, terpaksa putar balik lewat Caipete, begitulah seharusnya presenter Metro TV membacakan berita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s