Blog Komunitas Fans News Person

Posting-posting dari Thread Penyiar Berita Kesayangan Webgaul

  • Kunjungi juga Wikia PBK

  •  

    Juni 2008
    S S R K J S M
    « Mei   Jul »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • Kategori

  • Arsip

  • Meta

  • Blog Stats

    • 630,515 hits
  • Visitor Online

    hit counters


  • Advanced Website Visitor Tracker
  • RSS Reds Corner

  • Live Traffic

The Road To The One Jewel

Ditulis oleh andrade_silva di/pada Juni 20, 2008

Ulasan Akhir Mengenai Jewel of The Station dan Kedua Kandidat.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, dari pemilihan Jewel of The Station yang kini sudah memasuki tahapan Election, terpilih dua orang kandidat, yaitu Eva Julianti Yunizar (MetroTV) dan Isyana Bagoes Oka (RCTI). Dalam tulisan ini, akan di-revew mengenai bagaimana perjalanan proses kampanye mereka dalam Jewel of The Station kali ini, mulai semenjak pemilihan Primary di masing-masing Kaukus, perjalanan di Konvensi Nasional, hingga prediksi mengenai peluang mereka di Electoral College untuk merebut tahta sebagai “The One Jewel”, NewsAnchor Terfavorit di Indonesia.

MetroTV Caucus: The Battle for The Delegates

Kaukus MetroTV, seperti telah diprediksikan sebelumnya, memang menjadi ajang pemilihan yang amat sengit. Terdapat beberapa kandidat potensial di sini, serta akar tradisi yang lebih kuat dibandingkan dengan Kaukus lain. Pada kenyataannya, memang tidak ada Anchor yang benar-benar mendominasi perolehan suara di sini.

Semenjak awal, memang posisi Eva Julianti dalam Kaukus MetroTV ini cukup susah, karena masing-masing kandidat berpeluang menjadi pemenang, ditambah dengan pengaplikasian sistem “the winner takes all” membuat persaingan antar-kandidat pun menjadi amat ketat. Tidak seperti di Kaukus lain, Metro memiliki beberapa kandidat “home-grown” yang diharapkan bakal mendulang suara yang cukup besar, mengingat mereka memiliki basis massa pemilih yang juga cukup banyak. Kandidat semacam Gadiza Fauzi, Prita Laura, dan juga Frida Lidwina memang lebih dijagokan untuk mewakili MetroTV dalam Konvensi selanjutnya.

Namun, hasil dalam Primary pun berkata lain setelah secara tipis, Eva Julianti memenangkan Primary dengan selisih satu suara dari kandidat MetroTV lain yang sebenarnya juga amat potensial, yaitu Gadiza Fauzi. Bahkan Prita Laura dan Frida Lidwina pun gagal mendapatkan jumlah suara yang signifikan untuk membuat mereka sebagai “the real contender“. Dari sini bisa dilihat bahwa betapa dugaan dari para pakar dan pengamat politik sebelumnya, yang menjagokan Gadiza Fauzi untuk memenangkan Primary ini (bahkan prediksi adalah dengan mudah) ternyata salah.

Besar kemungkinan ini mengindikasikan bahwa ternyata Gadiza Fauzi, yang pernah menyandang predikat sebagai “Anchor Sejuta Umat” rupanya tidaklah sefavorit seperti yang dikira. Bahkan Eva Julianti pun bisa memastikan kemenangan sebelum deadline, meskipun pada akhirnya Gadiza Fauzi berhasil menipiskan ketertinggalan hingga satu poin saja. Terlepas dari nama besar dan reputasi yang telah didapatkan oleh Eva Julianti semasa di SCTV, hasil yang cukup mengejutkan ini mungkin juga mengindikasikan bergesernya peta kekuatan MetroTV dari “formasi tradisional” menuju ke era baru yang lebih kontemporer di mana Eva Julianti besar kemungkinan akan menjadi titik permainan utamanya.

Kaukus RCTI: Clash of The Titans

Dibandingkan dengan Kaukus MetroTV yang dihadapi oleh Eva Julianti, maka Kaukus RCTI relatif lebih “tidak dikenal” oleh threadvoters. Jarang sekali ada Threadvoters yang menjelajah hingga ke RCTI, sehingga peta kekuatan di RCTI pun relatif lebih mudah untuk diprediksikan.

Keberhasilan Isyana Bagoes Oka untuk memenangi Primary ini, bagaimanapun juga memang sebuah kejutan (meskipun juga sudah diprediksikan sebelumnya) mengingat di RCTI ini ada nama lain yang sebenarnya merupakan kandidat kuat, yaitu Chantal della Concetta. Reputasi serta nama besar yang dibawa oleh Chantal della Concetta sebenarnya hampir mirip dengan kasus Eva Julianti di MetroTV. Bahkan, secara kasar, boleh dibilang Chantal lebih baik dari Isyana Bagoes Oka.

Dibandingkan dengan Kaukus lain, maka posisi kandidat “home-grown” di RCTI ini sebetulnya cukup lemah. Ira Syarif menjadi kandidat “home-grown” yang meraih cukup banyak suara, namun perolehan suaranya sendiri masih jauh di bawah Chantal della Concetta. Ini adalah pembuktian yang cukup sahih betapa Kaukus RCTI amat didominasi oleh “pemain pendatang” semacam Isyana Bagoes Oka dan Chantal della Concetta. Posisi status quo terlihat dari besarnya jumlah suara yang diraih oleh dua kandidat dalam pengukuran tingkat Interstate.

Indikasi persaingan yang ketat antara kedua kandidat ini pun terlihat dari bahwa masing-masing kandidat sudah mendominasi semenjak awal Primary dilaksanakan. Namun, yang tidak diketahui adalah bahwa semenjak awal pula, Isyana telah memimpin perolehan suara atas Chantal della Concetta hingga akhir Primary. Ini tentu saja adalah hal yang cukup mengejutkan, mengingat seharusnya perjalanan Primary di Kaukus RCTI ini lebih seimbang di antara dua kandidat. Ini berarti bahwa reputasi dan ketenaran Isyana Bagoes Oka melambung lebih cepat sepindahnya dia dari TV7 (sekarang: Trans|7) ke RCTI, bahkan lonjakan ini lebih besar daripada Chantal della Concetta, meskipun mereka pindah dalam waktu yang hampir bersamaan.

Eastern Convention: The Hell Convention

Dalam pemilihan tingkat Konvensi, kembali Eva Julianti menghadapi grup sulit. Beberapa nama tenar yang meraih poin suara lebih banyak tergabung di sini, seperti Woro Windrati (TransTV), Rike Amru (SCTV) dan Virgianty Kusumah (GlobalTV/MNC News).

Berpengalaman menghadapi grup sulit dengan tingkat kekuatan yang merata seperti di Kaukus MetroTV, maka Eva Julianti melangkah dengan mantap semenjak awal Konvensi dimulai. Tidak seperti di Kaukus MetroTV di mana Eva Julianti harus jatuh bangun hingga tahap-tahap akhir untuk memastikan kemenangan, maka dalam Konvensi kali ini, Eva bisa dengan cukup mudah menjaring delegasi demi delegasi.

Dalam pandangan para pengamat, mungkin ini disebabkan bahwa meskipun Konvensi Republik dipenuhi oleh kandidat-kandidat yang meraup suara cukup banyak di Primary, tapi tidak ada yang memiliki basis massa yangmengakar seperti yang dimiliki oleh Eva Julianti. Rike Amru, secara historis, jelas masih kalah reputasinya dari Eva Julianti yang sempat mendominasi pemberitaan di SCTV bersama dengan Rosiana Silalahi. Namun kejutan justru terjadi ketika posisi kedua Konvensi diduduki oleh Kandidat yang tak terduga, yaitu Virgianty Kusumah. Meskipun meraih jumlah delegasi yang sama seperti Rike Amru, namun Virgianty Kusumah unggul dalam memenangkan suara para super-delegates. Bisa dipastikan bahwa seorang Virgianty Kusumah pastinya menjadi kesan tersendiri di hati para Super-delegates, yang menjadi kunci kemenangannya atas Rike Amru.

Western Convention: The Fast Lane

Dalam Konvensi Demokrat, Isyana Bagoes Oka tidak lagi tergabung dalam grup dengan tingkat status quo tinggi seperti di Kaukus RCTI. Di sini, ada beberapa kandidat kuat seperti Rahma Sarita (tvOne), Lolo Siregar (Trans|7), dan Tengku Fiola (ANTV). Khusus untuk Tengku Fiola, bersama-sama dengan Isyana Bagoes Oka, mereka berdua meraih jumlah suara tertinggi pada Primary tingkat Interstate lalu. Bisa dipastikan persaingan di Konvensi ini bakal cukup sulit bagi Isyana Bagoes Oka, karena dia harus mengembangkan strategi kampanye yang berbeda untuk menghadapi keadaan yang berbeda ari yang ia hadapi di Kaukus RCTI.

Seperti halnya Eva Julianti di Konvensi Republik, maka dalam Konvensi Demokrat ini, Isyana pun cukup sukses mendulang jumlah delegasi terbanyak. Hanya saja, berbeda dari sebelumnya, dia harus melalui proses Konvensi yang cukup susah. Lawan paling berat dalam Konvensi Demokrat ini adalah Rahma Sarita, yang mana Rahma Sarita ini memiliki basis massa tradisional yang cukup kuat.

Kunci kemenangan Isyana Bagoes Oka atas Rahma Sarita diperkirakan terjadi akibat penurunan image Rahma Sarita selepas kepindahannya dari MetroTV. Rahma Sarita juga gagal untuk memenangkan suara para Super-delegates yang sebelumnya diharapkan akan mendongkrak perolehan suaranya misal persaingan menjadi imbang. Selain itu, munculnya kandidat kuat lain seperti Lolo Siregar diperkirakan memberi andil untuk memecah suara pendukung Rahma Sarita, sehingga Isyana Bagoes Oka bisa memenangi duel kali ini. Kekalahan mengejutkan justru dialami oleh Tengku Fiola, yang mana sebelumnya dia meraih jumlah vote tertinggi di tingkat Primary. Kurang kuatnya dukungan dari basis massa tradisional nampaknya cukup mempengaruhi anjloknya perolehan suara Tengku Fiola dalam Konvensi Demokrat kali ini.

Electoral College: The Final Frontier

Pertemuan antara Eva Julianti dan Isyana Bagoes Oka menjadi pertemuan yang sangat unik antara dua kandidat yang bersaing kali ini. Sebagai kandidat dari Republik, Eva Julianti adalah seperti John McCain yang didukung oleh basis massa tradisional dan memiliki reputasi panjang, sementara kandidat dari Demokrat, yaitu Isyana Bagoes Oka ibarat Barrack Obama yang memiliki kharisma dan cukup populer di kalangan pemilih bebas. Untuk Electoral College, maka selain pemilihan dilaksanakan oleh para Thread-electors, juga dibawa pada tingkat nasional yaitu di Forum-forum utama dan situs pertemanan terbesar.

Menariknya, setelah go-national, prediksi mengenai pengibaratan Eva Julianti-Isyana Bagoes Oka dengan John McCain-Barrack Obama justru mendekati kenyataan, termasuk dengan perkiraan basis massa manakah yang akan diambil oleh dua kandidat ini. Eva Julianti lebih banyak meraih suara di kalangan pemilih dan forum serius (minus para Thread-electors) serta mendapatkan banyak sekali dukungan di kalangan newsperson lintas-Kaukus. Sementara itu, dukungan bagi Isyana Bagoes Oka justru lebih banyak didapatkan dari pemilih dan forum yang masuk kategori sebagai commoners. Nampaknya, kharisma dan image dari seorang Isyana Bagoes Oka lebih cepat menarik simpati dari masyarakat kebanyakan dibandingkan dengan Eva Julianti yang basis massa-nya lebih banyak didominasi berasal dari orang-orang yang memang mendalami (atau mengamati secara mendalam) dunia jurnalistik dan penyiaran berita.

Persebaran suara dari tiap-tiap Kaukus pendukung pun lebih terkutub di mana masing-masing anggota Kaukus lebih condong untuk memilih wakil dari Kaukus mereka (orang MetroTV memilih Eva Julianti, sementara orang RCTI memilih Isyana). Namun di sini ada beberapa fakta menarik bahwa beberapa reporter muda MetroTV lebih memilih Isyana Bagoes Oka daripada Eva Julianti, selain itu juga beberapa orang MetroTV pun memiliki kebingungan serupa untuk menentukan pilihan mereka di antara dua kandidat. Di mana hal serupa tidak ditemui di RCTI yang nampaknya lebih solid dalam mendukung Isyana Bagoes Oka. Kharisma Isyana Bagoes Oka, nampaknya berhasil mempengaruhi para pemilih tradisional MetroTV sehingga mereka mengalihkan pilihan pada kandidat lawan. Dukungan terhadap Eva Julianti, secara mengejutkan justru lebih solid diberikan oleh awak SCTV yang juga adalah bekas station Eva Julianti.

Who’ll Be The Winner?

Eva Julianti jelas memiliki segudang pengalaman serta basis massa tradisional yang bakal sangat diperlukan untuk memenangi duelnya melawan Isyana Bagoes Oka. Di lain pihak, Isyana Bagoes Oka memiliki kharisma yang menawan serta cukup populer di kalangan akar rumput, serta memiliki momentum yang cukup bagus dalam mengarungi Electoral College. Pengalaman Eva Julianti dalam memenangi Primary dan Konvensi yang dipenuhi oleh lawan-lawan tangguh pun akan menjadi modal yang amat berharga untuknya, tapi perlu diingat juga bahwa Isyana Bagoes Oka mampu memenangi dua pemilihan di mana kondisi masing-masing berbeda dan membutuhkan siasat pemenangan yang berbeda pula.

Siapakah yang akan memenangi Electoral College kali ini dan meraih gelar sebagai “The One Jewel of All Stations“, “NewsAnchor Terfavorit Se-Indonesia“? Kedudukan sementara masih menunjukkan perolehan suara yang berimbang di antara dua kandidat, oleh karena itu, dukungan dari Thread-electors akan sangat menentukan siapa yang pada tanggal 2 Juli mendatang akan berjaya dan menjadi “Penyiar Berita Kesayangan Seluruh Indonesia“.

(Andrade_Silva)

5 Tanggapan ke “The Road To The One Jewel”

  1. Audi berkata

    IsBO!! IsBO!! IsBO!!

  2. ucupcarrick berkata

    Eva..Eva!!

  3. Audi berkata

    ^^ cup, pasang gravatar dong. Eh gravatarnya digedein dong cup.

  4. caur berkata

    Tengku Fiola is the Best….

  5. Audi berkata

    ^^ Sayang Fiola kalah dipemilihan awal…

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>